Serba-Serbi Lamrim bagian 3: Motivasi Tingkat Menengah dan Agung

0

oleh: Dr. Alexander Berzin

Baca juga Serba-Serbi Lamrim bagian 1: Bagaimana dan Mengapa Mengikuti Jalan Buddhis bertahap
Baca juga Serba-Serbi Lamrim bagian 2: Motivasi Tingkat Awal

Ulasan bagian sebelumnya:

Kita telah berbicara tentang jalan spiritual yang bertahap, di mana kita pada dasarnya berupaya untuk memperluas dan meningkatkan motivasi kita mulai dari lingkup yang lebih kecil sampai menjadi sempurna. Dengan cara ini, tiap tingkatan dibangun berdasarkan tingkatan sebelumnya.

Kita juga melihat bahwa ada 2 cara untuk menjalani perkembangan ini. Kita bisa mengikuti versi ‘Dharma-Ringan’, yang fokusnya adalah meningkatkan kehidupan saat ini dan membuat hidup kita menjadi sedikit lebih baik. Bagi kebanyakan dari kita, inilah titik tolaknya. Namun, pemahaman tradisional bahkan tak mempertimbangkan tingkatan ini karena ia berasumsi pada keyakinan ihwal adanya kelahiran kembali yang tanpa awal dan akhir. ‘Dharma-Sejati’, seperti halnya Coca-Cola yang ‘asli’, berbicara tentang perkembangan dalam konteks kelahiran kembali.

Kita melihat bahwa motivasi tingkat awal, berikut semua tingkat lainnya, memiliki sebuah tujuan, alasan untuk mencapai tujuan, dan emosi di baliknya yang mendorong kita mencapai tujuan tersebut. Di tingkat awal, kita berusaha memperbaiki kehidupan mendatang kita, memastikan bahwa kita terus memiliki kelahiran manusia yang berharga sehingga bisa terus mengembangkan diri untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Kita menyadari sulitnya mencapai tujuan tertinggi dalam kehidupan saat ini saja. Dibutuhkan waktu dan kerja keras yang banyak untuk mencapainya. Alasan kita mencoba dan terus memiliki kelahiran kembali yang lebih baik adalah agar kita bisa terus menyusuri sang jalan.

Inilah yang akan kita lakukan ketika tujuan meraih kelahiran kembali sebagai manusia yang berharga tercapai. Kita tak sedang berbicara tentang pergi ke surga dalam kehidupan kita berikutnya dan hanya bersenang-senang. Dalam lingkup ini, emosi yang mendorong kita untuk mencari kelahiran kembali yang lebih baik adalah ketakutan akan kelahiran kembali yang lebih buruk. Dalam kelahiran kembali yang lebih buruk, kita takkan punya kesempatan untuk berupaya dan meningkatkan diri. Tapi, kita punya keyakinan bahwa ada cara untuk menghindari hal ini. Kita membahas ini dalam artian semacam ‘arah yang aman’, atau ‘berlindung’. Arah ini pada dasarnya adalah mencoba dan sepenuhnya menghentikan segala keterbatasan dan aspek negatif yang menyertai aktivitas mental kita, terutama menyangkut perilaku kita. Selain itu, kita ingin bertindak dengan cara yang membangun. Kita melakukannya dalam konteks menghargai kehidupan manusia yang berharga yang kita miliki, dan dengan pemahaman bahwa kita pasti akan kehilangan kehidupan yang berharga ini pada saat kematian. Kematian pasti akan datang dan kita tak tahu kapan ini akan terjadi.

Bahkan Kelahiran Kembali yang Terbaik Pun Tak memuaskan

Dengan motivasi tingkat menengah, kita bahkan menganalisanya lebih jauh. Bahkan jika kita memiliki kelahiran kembali yang lebih baik, atau bahkan kelahiran kembali sebagai manusia yang berharga, takkan ada kepuasan apabila kita terus hidup seperti itu. Hidup akan terus berjalan dengan sifatnya yang naik-turun tanpa kepastian ihwal apa yang akan kita rasakan di saat berikutnya. Kita mungkin senang sekarang, tapi di menit berikutnya kita bisa tiba-tiba merasa hidup kita kurang bermakna, sedih, atau bahkan depresi. Hal-hal terkecil dapat membuat kita marah, dan tentu saja kita punya masalah yang terus berulang – dalam tiap kehidupan kita harus melalui kelahiran dan menjadi bayi yang tak punya kendali terhadap fungsi tubuh kita; kita perlu belajar berjalan dan berbicara, dan melakukan ini terus-menerus akan benar-benar membosankan; kita harus pergi ke sekolah, dan siapa yang ingin melalui hal ini lagi?! Kita harus mencari pasangan dan pekerjaan, dan sekali lagi menghadapi penyakit, usia tua, dan kematian, yang tak hanya akan menerpa diri kita tapi juga orang-orang yang kita cintai.

Bahkan dengan kehidupan manusia yang berharga ini, ada begitu banyak hal yang tak memuaskan, dan semua masalah emosional kita akan tetap ada. Kita merasa marah dan kesal, dan kita menjadi serakah. Kita punya kemelekatan besar terhadap orang dan benda-benda. Kita merasa naif terhadap hukum sebab-akibat maupun realitas, dan karenanya bertindak dengan cara yang bodoh, seperti berpikir bahwa cara kita bertindak dan berbicara takkan berpengaruh pada orang lain. Kita sering berperilaku seolah-olah orang lain tak benar-benar ada dan memiliki perasaan. Hal ini benar-benar naif, bukan?

Semua masalah ini akan terus berlanjut dan kita akan mengalami pasang-surutnya kelahiran kembali yang berharga ini. Ada juga saat di mana kita mengalami keberuntungan dan pada akhirnya tak beruntung, mengalami kelahiran kembali yang lebih baik dan pada akhirnya memburuk. Hal ini hanya akan berjalan terus-menerus. Inilah yang kita maksud dengan ‘eksistensi atau kelahiran kembali yang berulang tak terkendali’, yang dalam bahasa Sanskerta disebut ‘samsara’.

Penolakan terhadap Samsara: Menyasar Pembebasan dengan Tekad untuk Bebas

Dengan motivasi tingkat menengah, tujuan yang ingin kita capai adalah pembebasan dari kelahiran kembali. Kesadaran mental kita tak punya awal dan akhir, dan kita tak ingin melanjutkan siklus kelahiran kembali yang berulang tak terkendali ini, yang tampaknya takkan pernah berakhir. Ketika kita berkata ‘tampaknya takkan pernah berakhir’, ini berarti bahwa siklus ini akan berjalan selamanya jika kita tak melakukan apapun tentangnya. Kita harus mengakhirinya dan mengalami penghentian sejati dari samsara. Mengapa? Karena kita ingin menghentikan penderitaan. Bahkan jika masalah yang datang tak begitu mengerikan, kita masih ingin menghentikan masalah ini. Inilah alasan kita ingin mencapai pembebasan.

Dalam bahasa Sanskerta, pembebasan disebut ‘nirwana’, dan emosi yang mendorong kita ke arah ini biasa disebut ‘penolakan terhadap samsara’. Ini bukan terjemahan terbaik, tapi pada dasarnya ia mengacu ke tekad yang sangat kuat untuk bebas. Dengan penolakan, kita memutuskan bahwa kita sudah cukup mengalami penderitaan ini. Kita muak dengannya, dan pada tingkat yang lebih dalam kita benar-benar merasa bosan dengan semua ini. Cukuplah sudah: kita ingin bebas.

Bersedia Menanggalkan Emosi-Emosi Pengganggu (Klesha) Kita

Kita bisa melihat bahwa untuk bebas, kita perlu menyingkirkan sebab dari semua penderitaan dan masalah kita. Kita benar-benar bersedia untuk tak hanya menyingkirkan penderitaan, namun juga sebabnya. Kita tak berbicara tentang menyerahkan es krim atau cokelat atau sesuatu seperti itu. Ini adalah pemahaman yang sangat sederhana ihwal penolakan. Apa yang menjadi tekad kita adalah membebaskan diri dari amarah, keserakahan, dan kemelekatan terhadap segala hal. Dalam kasus cokelat, kita perlu melepaskan kemelekatan kita terhadapnya, yang pada dasarnya disebabkan oleh kualitas baik dari cokelat yang kita lebih-lebihkan. Misalnya, kita berpikir, “Ini adalah hal terindah dan terenak di dunia, dan ini akan membuat saya bahagia, luar biasa bahagia!” Jika cokelat benar-benar mampu melakukan hal ini, maka semakin kita memakannya, kita akan menjadi semakin bahagia. Tapi, tak peduli seberapa gandrungnya kita pada cokelat, kita akan jatuh sakit jika memakannya terus-menerus, dan takkan ingin melihatnya lagi.

Hal ini benar-benar mendalam, dan sangatlah sulit untuk benar-benar ingin melepaskan diri kita dari kemelekatan, amarah, dan sebagainya. Kita seharusnya tak meremehkannya. Hal ini ibarat lelucon ihwal seseorang yang membenturkan kepalanya ke dinding dan takut untuk berhenti karena tak tahu apakah keadaan akan menjadi lebih buruk atau lebih baik ketika ia berhenti membenturkan kepalanya; karena telah terbiasa, kita akan terus membenturkan kepala kita ke dinding. Tentu saja ini adalah contoh yang ekstrim. Contoh yang lebih umum mungkin adalah ketika kita berada dalam suatu hubungan yang tak sehat dengan seseorang tapi ragu-ragu untuk memutuskannya karena takut menjadi jomblo. Akibatnya, kita menjaga hubungan yang tak sehat ini, dan akhirnya merasa sengsara.

Hal ini sangat umum, bukan? Kita tak ingin mengatakan hal-hal tertentu pada orang-orang tertentu karena takut mereka akan meninggalkan kita. Kita tak sedang berbicara tentang pengalaman aneh apapun di sini, melainkan hanya tentang hal-hal yang telah kita alami sepanjang waktu.

Apakah Pembebasan dari Kelahiran Kembali yang Berulang Tak Terkendali Adalah Sesuatu yang Mungkin, dan Apakah Saya Mampu Mencapainya?

Untuk mencapai tujuan pembebasan dan (pada akhirnya) pencerahan, pertama-tama kita harus tahu bahwa tujuan ini mungkin dicapai, dan tata cara mencapainya. Ini adalah topik yang rumit dan, karena sulit untuk menunjukkan bahwa mereka adalah tujuan yang bisa dicapai oleh kita semua, banyak orang yang melewatkannya. Ini adalah kesalahan besar, karena jika kita tak benar-benar yakin bahwa kita dapat mencapainya, mengapa pula kita mesti repot-repot berusaha menyasarnya? Ini ibarat diri kita yang baru saja memainkan sebuah permainan dan pada akhirnya mencapai satu titik di mana kita berkata bahwa permainan tersebut konyol, dan menyerah.

Kita harus menyelidiki secara mendalam topik hakikat-Buddha (faktor-faktor yang memungkinkan tercapainya pembebasan dan pencerahan), kemurnian alamiah batin, dan sebagainya. Apakah emosi pengganggu dan kebingungan kita adalah bagian fundamental dari batin kita? Jika ya, ini berarti bahwa mereka akan tetap berada di sana setiap saat. Jika tidak, apakah mereka bersifat sementara dan bisakah mereka dilenyapkan sehingga takkan pernah kembali lagi?

Pertanyaan dan perdebatan tentang hal ini mutlak diperlukan. Ini jelas bukan sesuatu yang harus diterima dengan iman buta. Bahkan, akan semakin baik bila kita semakin mempertanyakannya, karena kita perlu menghapus segala keraguan dan memiliki keyakinan yang kuat terhadap apa yang kita lakukan. Apakah kita harus menunggu sampai kita 100% yakin? Nah, ini bukan pertanyaan yang mudah. Bagaimana kita bisa tahu kapan kita benar-benar yakin? Mungkin butuh waktu yang sangat lama untuk menjadi yakin.

Jika kita berpikir bahwa semua ini omong-kosong, maka jelas upaya kita akan sia-sia. Tapi, ketika kita merasa bahwa semua ini mungkin adanya, maka kita dapat melanjutkan upaya kita. Bagaimanapun, kebenaran semua hal ini harus didasarkan pada semacam akal sehat, dan bukan karena iman buta, atau karena ‘guru saya bilang begitu’. Buddha sendiri berkata, “Jangan percaya pada apa yang saya katakan hanya karena iman terhadap saya, tapi ujilah perkataan saya layaknya ketika anda membeli emas”. Kita perlu penyelidikan untuk melihat apakah sesuatu itu memang benar adanya.

Menjadi Yakin terhadap Kelahiran Kembali: Kasus Serkong Rinpoche dalam 2 Masa Kehidupan

Memunculkan keyakinan akan adanya kelahiran kembali (sebagai semacam fakta) bisa menjadi proses yang sangat panjang. Saya bisa berbagi pengalaman pribadi karena saya telah mempelajarinya selama bertahun-tahun. Saya telah belajar Buddhisme selama lebih dari 45 tahun, dan di beberapa titik, terkait mengapa kelahiran kembali itu masuk akal, saya yakin bahwa saya telah mencapai pemahaman intelektual yang berasaskan nalar. Tapi, yang benar-benar meyakinkan saya pada tingkat emosional adalah hubungan saya dengan guru saya dalam 2 masa kehidupan. Namanya adalah Serkong Rinpoche, dan ia adalah salah satu guru dari Y.M. Dalai Lama; saya merasa sangat beruntung telah menjadi murid yang amat dekat dengannya. Saya menemaninya selama 9 tahun, di mana saya menjadi penerjemah sekaligus sekretaris pribadinya. Saya mengatur dan turut serta dalam semua perjalanan luar negerinya, serta bekerja sangat erat dengannya. Ia meninggal pada tahun 1983, dan terlahir serta ditemukan kembali dalam sistem Tibet yang dikenal dengan nama ‘Tulku’.

Ia sekarang berusia 25 tahun dan saya masih memiliki hubungan yang amat dekat dengannya, mirip dengan hubungan yang saya miliki dengan sosoknya di kehidupan sebelumnya. Tentu saja sekarang usia kami terbalik!

Saya pertama kali bertemu dengan Serkong Rinpoche yang baru ketika ia baru berusia 4 tahun, dan ketika saya pertama kali masuk ke ruangannya, penjaganya bertanya padanya, “Apakah anda tahu siapa ini?” “Jangan bodoh, tentu saja saya tahu siapa dia“ adalah jawabannya. Dari awal, dari dirinya selaku bocah berusia 4 tahun, ia sangat dekat dan menyayangi saya, jauh dibandingkan dengan orang lain. Sampai ia tumbuh dewasa pun situasinya tetap sama.

Pada berbagai kesempatan, kami menyaksikan video-video dari kehidupannya yang lampau, dan ia akan berkata pada saya – dan ia tak pernah bicara omong-kosong dengan saya – “Oh, saya ingat pernah mengatakan itu”. Selain semua logika dan penalaran, pengalaman inilah yang benar-benar membantu saya melampaui perasaan ‘yah, mungkin, mungkin…’. Pengalaman ini memberi saya kepastian.

Semua ini tak mudah. Apakah pembebasan memang mungkin dicapai? Apakah hakikat batin benar-benar murni? Bahkan jika kita memahaminya secara rasional, pemahaman emosional menuntut kita untuk masuki jauh lebih dalam. Namun, perlahan-lahan, kita bisa mengupayakannya.

Kebingungan ihwal Realitas selaku Sebab Kelahiran Kembali yang Berulang Tak Terkendali

Dengan tingkat motivasi menengah dalam Lamrim, kita punya penjelasan yang sangat rinci tentang mekanisme kelahiran kembali dengan 12 mata rantai yang saling bergantungan. Ini adalah nama untuk menyebut sebuah mekanisme yang sangat rumit, yang berkaitan dengan seluruh isu karma, buah karma, dan sebagainya. Kita perlu memahami secara mendalam aneka jenis emosi pengganggu seperti amarah dan keserakahan, bagaimana mereka muncul, dan apa yang melandasi mereka. Dengan cara yang sangat sederhana, saya menamai faktor-faktor yang melandasi aneka emosi ini sebagai ‘kebingungan’, yang membuat kita bingung ihwal pengaruh perilaku kita pada orang lain dan diri sendiri. Lebih dalam lagi, kita bingung ihwal bagaimana kita benar-benar ada, bagaimana orang lain ada, dan bagaimana segala sesuatu menjadi ada.

Pada dasarnya, kita punya kecenderungan untuk berpikir bahwa hal-ihwal ada dengan sendirinya, menjadi ada dengan daya mereka sendiri, dan terpisah dari segala sesuatu yang lain seolah-olah mereka terbungkus plastik. Bahkan kalaupun kita berpikir bahwa hal-ihwal itu saling terkait satu sama lain, yang mungkin ada di benak kita adalah hal-ihwal yang masing-masing terbungkus plastik tapi terhubung oleh tongkat. Ada banyak level kesubtilan yang perlu kita pahami terkait cara mustahil hal-ihwal menjadi ada. Kita perlu memahami secara tepat apa yang mustahil, dan apa yang diproyeksikan oleh kebingungan kita pada orang-orang dan hal-ihwal.

Kesunyataan: Ketiadaan Total dari Cara Mustahil Hal-ihwal Menjadi Ada

Apa yang perlu kita pahami adalah ‘kesunyataan’, yang bermakna ketiadaan total; sesuatu yang sama sekali tak ada. Apa yang tak ada merupakan rujukan nyata dari proyeksi-proyeksi yang mustahil. Mereka tak mengacu pada apapun yang nyata.

Kita dapat memakai contoh Santa Claus. Anggaplah kita melihat seseorang berjanggut putih panjang yang mengenakan setelan merah, dan ia terlihat seperti apa yang biasa kita namai ‘Santa Claus’. Kita pikir ia adalah Santa Claus. Tapi mengapa? Nah, karena ia terlihat seperti Santa Claus. Namun, penampilan dari Santa Claus tak mengacu pada apapun yang nyata, karena sebenarnya tak ada Santa Claus yang nyata. Inilah yang dibahas oleh kesunyataan: ketiadaan Santa Claus yang nyata yang berkorespondensi dengan penampilan orang ini. Kita tentunya tak menyangkal bahwa memang ada seorang laki-laki di sana, dan bahwa ia kebetulan mirip Santa Claus. Kita hanya menjelaskan bahwa orang ini tampil di hadapan kita dengan cara yang menipu. Walau sepertinya mirip Santa Claus, orang ini bukan Santa Claus, karena memang tak ada Santa Claus.

Pikiran kita bekerja seperti ini sepanjang waktu. Kita memproyeksikan segala macam omong-kosong, seperti orang ini adalah orang yang paling cantik, atau orang itu adalah orang yang paling mengerikan, atau kita adalah karunia Tuhan bagi dunia, atau sebaliknya, bahwa kita benar-benar tak berguna. Kita memproyeksikan hal-hal ini seolah-olah kita atau mereka ada begitu saja dengan sendirinya, benar-benar tak bersangkut-paut dengan segala sesuatu yang lain, seolah-olah ini adalah fakta yang benar dan tak berubah.

Pada kenyataannya, tak ada yang seperti itu. Bahkan, hal ini mustahil, berhubung segala sesuatu itu ada karena hubungannya dengan hal-hal lain. Y.M. Dalai Lama selalu memakai contoh jari-jari kita. Apakah jari keempat kita besar atau kecil? Nah, ia lebih besar ketimbang jari kelima, tapi lebih kecil ketimbang jari tengah. Jadi, apakah ia besar atau kecil? Tak ada jawaban pasti, karena ia hanya menjadi besar atau kecil dalam kaitannya dengan hal-hal lain. Ini benar-benar tergantung pada hal-hal lain, dan juga pada konsep kita tentang apa itu besar dan apa itu kecil. Saya pikir anda tentunya paham.

Pada motivasi tingkat menengah ini, kita berupaya menyingkirkan kesalahpahaman mendasar ini dengan meraih pemahaman tentang kesunyataan. Adalah kebingungan kita yang menyebabkan kelahiran kembali yang berulang tak terkendali, karena kebingungan mengaktifkan karma dan akibatnya, seperti yang dijelaskan dalam mekanisme rumit dari 12 mata rantai yang saling bergantungan.

Perlunya Konsentrasi dan Disiplin Moral

Untuk meraih pemahaman tentang kesunyataan, kita perlu memiliki konsentrasi. Untuk mengembangkan konsentrasi, kita perlu memiliki disiplin moral. Contoh yang bisa kita pakai adalah menebang pohon. Pemahaman adalah ibarat kapak tajam, tapi, agar bisa benar-benar menebang pohon, kita perlu selalu menebang di tempat yang sama. Terus menebang di tempat yang sama adalah ibarat konsentrasi. Untuk benar-benar bisa mengambil kapak, mengayunkan, dan menebangnya di tempat yang sama, kita butuh kekuatan. Kekuatan ini berasal dari disiplin moral, yakni berhenti melakukan tindakan buruk.

Motivasi tingkat menengah juga menyajikan set-set sumpah yang bisa diambil, yang meliputi sumpah penuh atau pemula dari biksu/i, atau sumpah perumah tangga untuk laki-laki atau perempuan. Perumah tangga mengacu ke seseorang yang tak menjalani kehidupan selibat di biara, tapi juga tak berarti bahwa anda memiliki keluarga; hal ini mengacu ke orang yang belum menikah juga. Di India kuno, hal ini cukup langka, berhubung perumah tangga hampir selalu memiliki keluarga. Sumpah biara dan perumah tangga ini secara kolektif disebut ‘Sumpah Pembebasan Pribadi’, karena tujuannya adalah membebaskan diri sendiri. Sumpah ini membantu kita menghindari berbagai jenis perilaku yang mungkin dimotivasi oleh emosi pengganggu, yang akan mengganggu latihan meditasi dan hal-hal positif sejenisnya.

Mengambil sumpah sebenarnya sangat penting. Mengapa? Karena ketika kita mengambil sumpah untuk tak lagi melakukan sesuatu, ini membebaskan kita dari kebingungan. Misalnya, bayangkan bahwa kita sedang berusaha untuk berhenti minum minuman keras atau merokok. Setiap kali kita sedang bersama dengan orang-orang yang minum atau merokok, kita memiliki keraguan terkait apakah kita juga mesti ikut-ikutan atau tidak. Bahkan jika kita benar-benar mencoba untuk berhenti, kita harus selalu membuat keputusan tiap kali situasi ini terjadi; hal ini cukup menantang (kalau tak mau dibilang membuat tertekan).

Jika kita bersumpah, maka kita telah mencapai final. Kita telah membuat keputusan, “Saya takkan minum, saya takkan merokok”, atau hal-hal semacamnya. Karena kita telah membuat keputusan, maka takkan menjadi masalah jika semua orang di sekitar kita minum atau merokok. Alih-alih sebagai pembatas atau hukuman, mengambil sumpah benar-benar dapat memberikan kita banyak kekuatan dan membebaskan kita dari kebingungan, terutama terkait hal-hal yang akan menghalangi tercapainya pembebasan akhir kita.

Dalam ajaran Buddha, sama sekali tak ada kewajiban untuk mengambil sumpah apapun. Hal ini harus dipahami. Tak ada yang bisa berkata bahwa anda harus mengambil sumpah ini atau itu, atau bahwa anda harus menjadi seorang biksu/i dan tinggal di biara. Namun, jika kita benar-benar serius ingin mendapatkan pembebasan dari samsara dan membersihkan diri untuk selamanya dari amarah, kemelekatan, keserakahan, dan sebagainya, mengambil sumpah tertentu pasti akan memudahkan upaya ini. Mungkin saat ini kita belum siap, dan tentunya hal ini tak masalah. Kita perlu menilai diri dan situasi kita sendiri dengan jujur.

Inilah motivasi tingkat menengah. Meski konsentrasi dan kesunyataan adalah bagian darinya, keduanya belum dibahas secara utuh di sini. Topik-topik ini sepenuhnya akan dibahas dalam motivasi tingkat agung.

Motivasi Tingkat Agung: Memikirkan Semua Makhluk

Dengan motivasi tingkat agung, pikirkan bahwa kita bukan satu-satunya makhluk di alam semesta ini. Ada orang lain, dan mereka semua juga berada dalam situasi yang sama seperti kita. Mereka juga menderita dan mesti melalui kelahiran kembali yang berulang tak terkendali. Kita ingin kebahagiaan yang stabil dan menghindari penderitaan, dan begitu juga dengan orang lain. Kita semua benar-benar setara dalam hal ini. Ini berlaku bukan hanya untuk saya dan beberapa orang terpilih, tapi juga tiap makhluk. Kita semua saling berhubungan dan saling bergantung satu sama lain. Kita tak muncul dengan sendirinya. Bahkan, kita tak bisa bertahan hidup dengan hanya mementingkan diri sendiri.

Ada beberapa metode yang benar-benar cukup canggih untuk memperluas kapasitas hati kita agar mampu menganggap semua orang setara. Kita telah menyinggungnya sedikit sebelumnya ketika kita berbicara tentang mengganggap semua makhluk sebagai ibu kita dari kehidupan-kehidupan sebelumnya dan sebagai sosok yang telah sangat baik kepada kita. Ada versi ‘Dharma-Ringan’ di mana kita bisa melihat bagaimana orang lain bisa bertindak bak seorang ibu dalam mengurus kita. Namun, hal ini memiliki keterbatasan, berhubung sulit untuk menerapkannya pada teman kita: nyamuk.

Cinta kasih (Metta)

Untuk mulai memperluas kapasitas hati kita, kita mulai dengan mengembangkan apa yang disebut ‘cinta kasih’. Prosesnya sebenarnya dimulai dengan menyetarakan semua orang – di mana kita tak lagi hanya tertarik pada beberapa orang, hanya menyukai orang-orang tertentu, dan acuh tak acuh terhadap sisanya. Kita berupaya untuk menjadi terbuka pada semua orang, dan atas dasar ini, kita menyadari keterkaitan kita dengan semua orang. Hal ini bisa dikembangkan melalui penalaran bahwa tiap orang telah menjadi ibu kita dan sangat baik pada kita dalam kehidupan-kehidupan sebelumnya, atau hanya dengan mengakui bahwa segala sesuatu yang kita nikmati dan manfaatkan berasal dari hasil kerja orang lain. Coba lihat saja lantai di bawah kita, bangunan tempat kita berada, air yang kita minum; apakah kita pernah berpikir dari mana semua hal tersebut datang? Bagaimana air dan makanan kita bisa sampai di sini? Semua itu berasal dari pekerjaan orang lain, upaya dari semua orang di sekitar kita. Kita semua setara. Sangatlah tak logis bila kita hanya berupaya untuk kepentingan diri sendiri, karena untuk benar-benar menguntungkan diri sendiri, kita harus menguntungkan semua orang.

Atas dasar ini, kita mampu mengembangkan cinta kasih yang sama terhadap semua orang. Cinta kasih ini didefinisikan sebagai keinginan agar tiap makhluk berbahagia dan memiliki sebab-sebab kebahagiaan tersebut. Hal ini tak ada hubungannya dengan cinta romantis, yang biasanya tercampur dengan banyak kemelekatan. Ketika kita berkata, “Saya mencintaimu”, ini biasanya berarti, “Saya membutuhkanmu. Jangan pernah meninggalkanku. Saya tak bisa hidup tanpamu”. Ketika kita tak mendapatkan perhatian yang diinginkan dari orang lain, atau ketika mereka mengatakan sesuatu yang buruk, maka dengan segera perkataan kita berubah menjadi, “Aku tak mencintaimu lagi”.

Dalam Buddhisme, jenis cinta kasih yang dibicarakan di atas sama sekali tak ada hubungannya dengan bagaimana orang lain bertindak atau apa yang mereka lakukan terhadap kita. Ini semata hanya keinginan: “Semoga anda bahagia”. Ibaratkanlah orang lain sebagai bagian dari tubuh kita. Kita tentunya ingin agar semua jari kaki kita berbahagia, bukan hanya sebagian dari mereka (tak peduli apa yang jari-jari ini lakukan terhadap kita).

Welas Asih (Karuna)

Dengan cinta kasih, kita kemudian mengembangkan ‘welas asih’. Ini adalah keinginan agar orang lain terbebas dari penderitaan dan sebab-sebab penderitaan tersebut. Hal ini tak hanya mengacu pada tingkat penderitaan yang dangkal (semisal naik-turunnya kehidupan), tapi juga pada jenis penderitaan yang lebih dalam (seperti kelahiran kembali yang berulang tak terkendali). Memiliki welas asih tak berarti bahwa kita memandang rendah orang lain dan merasa kasihan pada mereka, seperti ketika kita berkata, “Oh, makhluk yang kasihan”. Welas asih Buddha didasarkan pada rasa hormat dan pemahaman bahwa adalah mungkin bagi semua orang untuk terbebas dari penderitaan dan sebab-sebabnya. Hal ini bukan hanya keinginan baik ataupun kata-kata indah. Dengan welas asih, kita mulai mengambil tanggung jawab untuk menciptakan sebuah keadaan yang bebas dari penderitaan. Butuh banyak keberanian di sini.

Ketika kita mengembangkan apa yang dikenal sebagai ‘welas asih agung’, welas asih kita ditujukan secara merata kepada semua makhluk; kita memperhatikan mereka semua layaknya seorang ibu yang mengasihi anak semata wayangnya. Perasaan welas asih agung juga berisi keinginan untuk melindungi tiap makhluk agar tak lagi mengalami penderitaan apapun.

Tekad Luar Biasa

Langkah selanjutnya yang harus kita lakukan adalah mengembangkan ‘tekad luar biasa’, yakni keputusan yang kuat untuk mengambil tanggung jawab bukan hanya untuk membantu orang lain sekenanya atau bahkan lebih dari sekenanya, tapi juga untuk membantu mereka semua mencapai pencerahan seorang Buddha. Kita tak sekadar berniat untuk melakukannya, tapi telah membuat keputusan: kita pasti akan melakukannya.

Bodhicitta: Mencapai Pencerahan demi Semua Makhluk

Tahap terakhir dari urutan ini adalah mengembangkan ‘bodhicitta’ berdasarkan cinta kasih, welas asih, dan tekad luar biasa. Kita sadar bahwa satu-satunya cara terbaik untuk membantu semua makhluk adalah apabila kita sendiri mencapai ke-Buddha-an. Tapi, agar aspirasi ini menjadi realistis, kita perlu memahami apa itu Buddha, bagaimana Buddha bisa dan tak bisa membantu makhluk lain. Ingat, seorang Buddha bukanlah Tuhan maha kuasa yang dapat menjentikkan jarinya dan membuat penderitaan semua makhluk lenyap. Seorang Buddha pasti bisa menunjukkan orang lain jalan dan memberi mereka inspirasi, tapi tetap saja, kita sendirilah yang harus berjerih-payah. Tak ada orang lain yang bisa membuat kita memahami realitas; kita sendirilah yang harus memahaminya.

Jadi, dengan dorongan cinta kasih dan welas asih, bodhicitta berfokus pada pencerahan kita di masa depan. Ini adalah pencerahan kita sendiri, bukan pencerahan dari Buddha Shakyamuni atau pencerahan lainnya secara umum. Pencerahan kita belum terjadi, namun berdasarkan faktor-faktor hakikat-Buddha dalam arus mental kita, ia dapat dan akan terjadi. Faktor-faktor ini mencakup hakikat dasarnya yang tak tercemar, berikut semua potensi dan kemungkinannya. Kita berfokus pada pencerahan yang belum terjadi ini, dengan maksud untuk mencapainya kelak sehingga dapat memberikan manfaat kepada makhluk lain sebanyak mungkin. Dalam perjalanan menuju pencerahan, kita juga berniat untuk memberikan manfaat kepada makhluk lain sebanyak mungkin.

Inilah bodhicitta. Ia adalah keadaan dan batin yang sangat luas, dan jangan salahpahami ia sebagai sebatas meditasi cinta kasih dan welas asih. Bodhicitta tak hanya sebatas itu. Cinta kasih dan welas asih adalah landasannya, namun bodhicitta jauh, jauh lebih luas.

6 Kesempurnaan

Seperti yang kita lihat, tujuan motivasi tingkat agung adalah mencapai ke-Buddha-an sehingga kita dapat membantu makhluk lain sebanyak mungkin. Kita didorong oleh cinta kasih, welas asih dan tekad luar biasa. Namun, bagaimana kita bisa benar-benar mencapai pencerahan ini? Pertanyaan ini membawa kita ke ‘6 kesempurnaan’, yang dalam bahasa Sanskerta disebut ‘6 paramita,’ atau yang biasanya saya terjemahkan sebagai ‘6 sikap luas’. Saya lebih suka istilah ini karena jangkauan yang luas bermakna bahwa sikap ini membawa kita ke jalan pencerahan seorang Buddha. Bagi sebagian orang, menggunakan istilah ‘kesempurnaan’ membuatnya terdengar seolah-olah mereka harus menjadi sempurna (padahal mereka tidak), sehingga mereka merasa rendah diri. Ini bukan perasaan yang seharusnya ditimbulkan oleh istilah ini.

Kemurahan Hati (Dana)

Inilah sikap pertama yang perlu kita kembangkan, di mana kita tak hanya memberikan barang-barang material kepada orang lain, tapi juga saran, ajaran, dan kebebasan dari rasa takut. Bahkan jika kita tak punya apapun untuk ditawarkan, kita bisa menumbuhkan sikap bersedia memberikan apapun yang diperlukan orang lain. Hal lain yang bisa kita tawarkan adalah cara kita memperlakukan orang lain. Karena kita telah mengembangkan keseimbangan batin, hal ini berarti bahwa orang lain tak perlu takut kepada kita. Kita takkan marah pada orang lain, melekat pada mereka, atau ingin mendapatkan sesuatu dari mereka. Kita takkan mengabaikan orang lain atau menolak mereka ketika mereka melakukan sesuatu yang tak kita sukai. Selain itu, kita akan sungguh-sungguh mencoba membantu mereka. Ini sebenarnya merupakan hadiah luar biasa yang dapat kita berikan kepada seseorang, hadiah luar biasa yang kita kembangkan dengan kemurahan hati.

Disiplin Moral (Sila)

Inilah sikap kedua yang perlu kita kembangkan, di mana kita berupaya untuk tak melakukan hal-hal yang merusak, melainkan berfokus ke hal-hal yang membangun. Kita punya disiplin untuk belajar, bermeditasi, dan benar-benar membantu orang lain. Kita tak merasa terlalu lelah untuk membantu seseorang, dan tak mengabaikan orang lain hanya karena kita tak merasa ingin membantu mereka.

Kesabaran (Ksanti)

Inilah sikap ketiga yang perlu kita kembangkan, di mana kita mampu menanggung penderitaan dan kesulitan tanpa merasa marah atau kesal. Berupaya melatih diri sendiri sekaligus orang lain bukanlah hal yang mudah, dan kebanyakan orang sama sekali tak mudah untuk ditolong. Mereka akan menyulitkan kita, dan kita butuh kesabaran agar tak menjadi marah. Ada banyak metode untuk mengembangkan kesabaran, seperti halnya dengan semua sikap yang lain.

Tekad Luar Biasa (Virya)

Inilah sikap keempat yang perlu kita kembangkan, di mana kita tak pernah menyerah, tak peduli betapa pun sulitnya keadaan. Sikap ini adalah ibarat semangat yang gagah berani. Selain tak menyerah, kita juga bersukacita dalam membantu orang lain, dan benar-benar senang bila berkesempatan untuk membantu. Ada banyak petunjuk tentang cara mengembangkan sikap ini (termasuk mengetahui kapan kita harus bersantai dan beristirahat). Jika kita mendorong diri terlalu keras, kita takkan bisa membantu siapapun. Terkait hal ini, ada banyak metode untuk mengatasi aneka jenis kemalasan dalam diri kita, yang akan mencegah kita dalam upaya melatih diri sendiri dan membantu orang lain.

Stabilitas Mental (Samadhi)

Inilah sikap kelima yang perlu kita kembangkan, di mana kita melatih keseimbangan batin. Sikap ini tak hanya mencakup konsentrasi, tapi juga stabilitas emosional. Apa yang ingin kita miliki adalah keadaan batin yang stabil, yang tak berada di bawah pengaruh pikiran yang mengembara, yang tak hinggap ke objek-objek yang menarik hati, atau yang tak merasa bosan dan mengantuk. Batin yang demikian tetap terpusat pada apapun yang kita ingin fokuskan. Misalnya, ketika seseorang berbicara kepada kita, batin kita tak berkeliaran memikirkan hal-hal lainnya. Kita juga dalam keadaan stabil dalam artian bahwa kita tak punya emosi-emosi yang mengganggu stabilitas batin kita; kita tak lagi uring-uringan. Ini berarti bahwa kita tak terlalu sensitif atau tak sensitif, melainkan seimbang dan stabil.

Kebijaksanaan (Prajna)

Inilah sikap keenam yang perlu kita kembangkan, di mana kita mampu membedakan antara tata cara hal-ihwal eksis dan apa saja yang mustahil. Ini adalah kesadaran yang sangat spesifik, sehingga istilah ‘kebijaksanaan’ tampak terlalu samar-samar. Secara khusus, kita berbicara tentang kesadaran untuk mengetahui apa saja yang musthail, yang melibatkan pemahaman tentang kesunyataan. Kita sadar bahwa hal-hal tertentu adalah konyol, mustahil, dan tak mengacu pada apapun.

Kita berlatih dengan praktik dan metode ini untuk mengembangkan 6 paramita, tujuan kita, motivasi kita, tekad kita, dan bodhicitta. Semua ini termasuk dalam lingkup motivasi tingkat agung.

Kesimpulan

Dengan motivasi tingkat awal sebagai landasannya, melalui motivasi tingkat menengah kita sadar bahwa kita masih akan terus menderita bahkan jika kita terlahir kembali dalam kondisi yang lebih baik. Kita masih akan mengalami berbagai masalah, harus sakit dan mati, dan kemudian harus mengulangi semuanya berulang kali. Menjadi bosan dengan semua ini, kita paham bahwa tak ada yang spesial dari seluruh kelahiran kembali yang berulang tak terkendali ini, sehingga kemudian muncul tujuan dalam diri untuk terbebas dari semua ini.

Ketika kita lanjut ke motivasi tingkat agung, kita berhenti berpikir tentang diri sendiri sebagai satu-satunya orang penting – pusat alam semesta. Kita sadar bahwa semua makhluk (termasuk kita) sama-sama menginginkan kebahagiaan dan ingin menghindari penderitaan. Tak hanya itu, kita melihat bahwa semua makhluk, baik di kehidupan sebelumnya maupun dalam kehidupan saat ini, telah bersikap luar biasa baik kepada kita. Tanpa mereka, kita takkan bisa makan atau minum, membaca atau menulis, pergi ke toko-toko, menikmati film, atau melakukan apapun. Dari sudut pandang ini, akan menjadi amat memalukan bagi kita untuk mengabaikan kebaikan mereka, sehingga pada gilirannya, kita pun menjadi tergerak oleh welas asih dan cinta kasih kepada mereka, dan pada akhirnya mengembangkan bodhicitta (di mana kita ingin mencapai pencerahan demi memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi semua makhluk).

Sumber: studybuddhism.org | diterjemahkan oleh: Jepry | disunting oleh: Stanley Khu

Share.

About Author

Leave A Reply

WhatsApp us